Jumat, 16 Agustus 2013

KUCARI SUMBER HIDUP


Tuhan sumber hidup
Desah angin malam ini menerpa ragaku
Dan mengusik batinku
Aku yang bersimpuh pasrah
Dengan desakan seribu tanya di dalam rongga kepala.

            Dari tengah hiruk-pikuk kepanikan kota
            Dari tengah kepadatan jadwal dan tugas sekolah
serta  rumus matematika dan kerumitan fisika
            Engkau menggandengku, mengajakku mengembara
            Melintasi bukit, ngarai dan lembah.

Di bawah pohon jambu Engkau menghiburku dengan nyanyian burung-burung
Di semak-semak Engkau menggoreskan garis merah di lenganku
Di kali Engkau menyejukkan tubuhku yang kepayahan
Di lereng-lereng bukit Engkau memacu langkah dan nafasku.

            Tuhanku, oh ... Tuhanku.
            Kucari Engkau pada lembar daun-daun jambu
            Kudengar Engkau pada angin di pucuk pepohonan
Dan kurasakan kelembutan-Mu pada air di sela bebatuan.

Lewat awan-gemawan di puncak gunung Pati
Lewat cicit serombongan pipit meliuk di sela bukit
Lewat hembusan bayu pada hijauan semak
Kurasakan Engkau menggandeng hatiku

Tuhanku, oh... Tuhanku.
Engkau sumber hidupku,  aku berpasrah pada-Mu
Biarlah aku lebur di dalam kasih-Mu
Karena Engkaulah harapanku, sumber adaku.

                                                Bumi Perkemahan Gunungpati – Ungaran
                                                Oktober 1988

Kamis, 11 Oktober 2012

Rekreasi Terpimpin


Oleh: Rofinus Emi Lejap

Rekreasi adalah acara bersenang-senang. Dalam Camping Rohani "Penyegaran Hidup" rekreasi dipimpin oleh seorang atau beberapa pembina secara bergantian sehingga permainan yang dimainkan lebih bervariasi dan suasana juga dapat berganti-ganti sesuai jiwa kaum remaja.

Rekreasi Terpimpin di dalam camping sebaiknya dijelaskan aturan permainan sehingga semua peserta terlibat aktif.

Pelaksanaan
1. Peserta duduk membentuk lingkaran dalam suatu ruangan.
2. Para pembina, baik pembimbing rohani maupun pembina pramuka bergantian membawakan permainan dan melibatkan seluruh peserta dalam permainan.
3. Diusahakan agar seluruh peserta terlibat aktif. Jika ada peserta yang masih terhanyut dalam kesedihan karena sharing sedih atau alasan yang lain, didekati secara bijaksana dan diajak agar melebur bersama teman-teman.
4.   Penjelasan tentang syarat permainan harus singkat, jelas, dan tegas.
5.   Permainan-permainan dan nyanyian diusahakan bervariasi.
6.  Pilih permainan dan lagu-lagu yang gembira dan disenangi remaja.
7.  Permainan tidak boleh terlalu lama agar tidak membosankan.

a. Tarsan Kota 

Aturan Permainan

  1. Peserta berdiri membentuk lingkaran. 
  2. Pembina berada di tengah lingkaran 
  3. Peserta di bagi dua sama banyak, misalnya ada 40 peserta berarti 20-20.
  4. Agar peserta mengetahui dan mengingat nomornya masing-masing, mereka harus disuruh menghitung dari 1 sampai 20 dilanjutkan dengan 1 sampai 20 lagi.  
  5. Lalu pembina mulai bercerita.
  6.  Dalam cerita tersebut, pembina harus menyinggung nomor-nomor peserta.
  7. Peserta yang disebut nomornya dalam cerita, harus mengangkat tangannya sambil berteriak Aiao...(gaya Tarsan).
Contoh cerita: Pada suatu hari aku melihat 15 anak (nomor 15 berteriak sambil berputar di tempat) berjalan di bawah pohon yang rindang, masing-masing membawa 2 buku tulis (nomor 2 berteriak...) Peserta harus menanggapi dengan cepat karena cerita terus berlangsung.
Apabila peserta yang nomornya disebut terlambat menanggapi cerita pembina, harus mendapat sanksi atau hukuman, misalnya menyanyi, menari dan sebagainya.

 b. YA atau TIDAK

Aturan permainan

  1. Pembina mengajukan pertanyaan kepada satu-satu peserta. 
  2. Peserta yang ditanya harus menjawab dengan bahasa isyarat, ”YA atau TIDAK” tetapi dengan ekspresi terbalik. 
  3. Jika “YA”, peserta harus menggelengkan kepala. Jika “TIDAK”, peserta harus menganggukkan kepala. 
  4. Pertanyaan dilemparkan kepada peserta secara tiba-tiba. Untuk itu, peserta harus peka dan siap. 
  5. Pertanyaan disesuaikan dengan tingkat umur.
  6. Contoh: Pertanyaan pembina 1 + 1 = 2 sambil menunjuk kepada seorang peserta.
    Peserta yang ditunjuk menjawab "Ya" sambil menggelengkan kepala.
     
  7. Jika terlambat menjawab, peserta dikenai sanksi.
 c. Pertanyaan Tak Terduga

Aturan permainan:

  1. Peserta duduk dalam ruangan atau tempat lain yang memungkinkan untuk menulis. 
  2. Pembina menyediakan kertas, sedangkan peserta menyiapkan alat tulis. 
  3. Pembina mengajukan pertanyaan jebakan kepada peserta.
 Contoh pertanyaan
1.   Binatang apa yang pernah adik-adik lihat? Tulis satu saja! (Anjing, sapi, dsb).
2. Apakah adik-adik pernah piknik, tamasya, tempat bagaimana yang kalian suka dan bagaimana situasinya? Tulis satu saja! (sepi, di pantai, dsbnya).
3.   Pernahkah adik-adik makan buah rambutan? (pernah, tidak/belum)
4.   Menurut adik-adik, manakah bagian tubuh yang paling penting? (Telinga, mulut).
5.   Setiap orang pasti suka makanan tertentu. Makanan bagaimana yang paling kamu sukai? Makan yang pedas, pahit, asam atau manis?

Setelah semua menjawab, kertas dikumpulkan kemudian pembina memilih contoh beberapa peserta dan membacanya sambil membuat pertanyaan yang sebenarnya.

Misalnya yang dipilih kertas si Novi:
Nomor 1: Kalau menikah, kamu mau mau potong hewan apa? Jawaban Novi, Cecak.
Nomor 2: Ke mana kamu akan membawa pasangan untuk berbulan madu? Novi bilang ke pantai yang sepi
Nomor 3: Dan seterusnya...!

d. Udara, Darat, Laut

Aturan permainan 

  1. Peserta duduk atau berdiri membentuk sebuah lingkaran. 
  2. Pembina mengelilingi lingkaran tersebut sambil mengatakan “Udara / Laut / Darat” dengan cepat sambil menunjuk ke peserta.
  3. Peserta yang ditunjuk harus menjawab salah satu binatang yang hidup di udara, laut, atau darat dengan cepat. 
  4. Peserta yang terlambat atau salah menjawab dikenai sanksi. Bentuk sanksi tergantung kebijaksanaan pembina.
Contoh
Si pembina menunjuk si A sambil mengatakan “Udara”. Maka si A harus menyebut salah satu nama unggas dengan cepat , misalnya “Elang”. Demikian juga dengan pertanyaan darat dan laut. Peserta yang ditunjuk menyebutkan nama-nama binatang sesuai dengan tempat yang disebut oleh pembina.

e. Memompa Ban


Aturan permainan

  1. Peserta membentuk satu lingkaran dengan posisi jongkok. 
  2. Pembina, sebagai tukang pompa, berdiri di tengah lingkaran dan meragakan orang yang sedang memompa ban. 
  3. Peserta harus mengikuti aba-aba si tukang pompa, mulai dari jongkok, naik sedikit demi sedikit, sampai posisi berdiri dan ban sudah terisi udara. Tetapi, peserta harus jeli melihat gerakan tukang pompa karena sewaktu-waktu ban itu akan dikempiskan. Jika terlambat mengikuti aba-aba, peserta akan dikenai sanksi.

f. Membuat Kelompok Tak Terduga

Sarana: Tape, kaset, beberapa benda kecil yang dapat diedarkan.

Aturan permainan

  1. Anak yang hendak dikelompokkan membuat lingkaran. 
  2. Dalam lingkaran, beberapa anak diberi benda yang ditentukan oleh pembimbing. Jumlah benda sesuai dengan jumlah kelompok yang hendak dibentuk. 
  3. Dengan diiringi musik, benda-benda itu diedarkan keliling. Jika musik berhenti, anak yang memegang benda-benda itu menjadi anggota kelompok yang terbentuk. Mereka langsung disuruh keluar lingkaran supaya tidak terjadi, satu orang ikut dua kelompok. 
  4. Selama musik masih berbunyi benda harus terus diedarkan. Jika musik berhenti, benda juga harus berhenti diedarkan.

 g. Presiden Spel

Aturan permainan

  1. Peserta duduk membuat lingkaran. 
  2. Peserta menghitung sehingga masing-masing memiliki nomor kecuali presiden. 
  3. Ada satu orang yang menjadi presiden. (sebaiknya pembimbing). 
  4. Presiden menyebutkan salah satu nomor yang dimiliki peserta.
  5. Peserta yang disebutkan nomornya harus berdiri, menyebutkan namanya sendiri, kemudian langsung menunjuk nomor lain, dan seterusnya. 
  6. Tidak diperbolehkan menyebut nomor yang sama berulang-ulang.
 h. Permainan Kata

Aturan permainan:


  1. Peserta duduk membentuk lingkaran. 
  2. Pembina menyebut salah satu kata. Orang yang berada di samping kanan atau kiri menyambung dengan kata lain yang dimulai dengan suku kata terakhir dari pembina atau orang sebelumnya. Demikian seterusnya.
Contoh: 
Pembina      : Tuhan,
Orang ke-2  : Hantu,
Orang ke-3  : Tulis, dan seterusnya.


Ada sangat banyak permainan yang mengasyikan hanya di dalam camping, waktu rekreasi dibatasi karena ada acara lain yang juga harus dijalankan.
***

Rabu, 12 September 2012

SHARING


Oleh: Rofinus Emi Lejap

Sharing dalam Aktivitas

Istilah “Sharing” merupakan istilah yang bisa diterapkan pada banyak hal. Ada Mesin sharing, file sharing, file sharing software, online file sharing, file sharing website, share files, web file sharing, music sharing, shared music, video sharing, printer sharing dan hosting sharing. Mengapa istilah itu begitu akrab pemakaiannya dalam berbagai bidang? 

Sharing juga biasa digunakan dalam kegiatan lain di dalam camping, retret, rekoleksi, dan pendalaman Kitab Suci. Sharing yang dilakukan manusia, artinya membagikan sesuatu kepada orang lain. Dalam camping, sharing adalah menceritakan pengalaman hidup pribadi yang melibatkan perasaan, buah pikiran, atau pendapat pribadi tentang sesuatu. 

Dengan Sharing, peserta camping diharapkan belajar membagikan salah satu pengalamannya yang paling berkesan kepada orang lain. Dalam sharing, diusahakan agar peserta sampai kepada pemahaman akan peranserta orang lain dan campur tangan Tuhan. Dengan ungkapan-ungkapan itu, mereka dapat saling memperkaya dan meneguhkan. 

Sharing di dalam camping adalah acara ‘pengungkapan hati’ maka ada syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh pendamping kelompok sharing dan oleh peserta sendiri. Keberhasilan suatu sharing sangat ditentukan oleh pemahaman arti sharing serta suasana yang diciptakan. Untuk itu, sebelum sharing terlebih dahulu dijelaskan syarat-syarat serta suasana yang harus diciptakan serta dipatuhi oleh peserta sharing. 

Kunci utama sharing adalah mendengarkan. Selama sharing, setiap peserta mempunyai kewajiban yang sama, yaitu mendengarkan ungkapan teman tanpa menanggapi, membantah, mengejek atau mempertanyakan. Dan setelah sharing, apa yang diceritakan di dalam kelompok tidak boleh diceritakan, disebarkan atau ditanyakan di luar sharing. Dengan demikian, kerahasiaan tetap terjaga. 

Tuhan menyapa manusia ciptaan-Nya di dalam berbagai situasi dan peristiwa. Ada yang disapa melalui peristiwa gembira misalnya mendapat hadiah waktu berulangtahun, dibelikan sepeda karena lulus waktu menamatkan jenjang sekolah dasar dan mendapat teman-teman baru di SMP atau pengalaman yang lain. Tetapi tidak jarang Tuhan menyapa manusia melalui peristiwa sedih, misalnya kematian anggota keluarga dan berpisah dengan teman akrab atau mendapat hukuman di sekolah. Pengalaman suka dan duka merupakan kenyataan yang sudah terjadi dan tidak dapat dirubah, tetapi direfleksian atau direnungkan untuk menemukan makna dari peristiwa itu. 

Penjelasan makna Sharing!

Sharing dalam camping merupakan kegiatan menceritakan suatu peristiwa hidup yang paling berkesan kepada orang lain di dalam suatu kelompok. Maksud kegiatan sharing adalah peserta belajar membuka diri, baik terhadap pengalaman sendiri maupun terhadap pengalaman orang lain melalui cerita. Sharing juga mengandung makna pengakuan akan campur tangan Tuhan di dalam peristiwa hidup manusia melalui kehadiran orang-orang lain di rumah, di sekolah dan di tempat lain.

Peristiwa yang diceritakan atau dibagikan kepada teman-teman itu adalah kisah yang otentik, benar-benar dialami sendiri bukan pengalaman orang lain apalagi kalau cerita itu tidak benar. Kisah yang berasal dari pengalaman pribadi akan mengalir dengan sendirinya hanya mungkin waktu mengungkapkannya tersendat-sendat karena emosi atau perasaan dilibatkan. Di dalam pengalaman yang asli dan jujur tidak ada batasan atau larangan untuk tertawa dan menangis. Bila pengalaman lucu dan gembira tertawalah dan bila sebaliknya menangislah. 

Karena sharing bersifat pribadi, semua yang di-sharing-kan oleh seseorang tidak boleh dijadikan bahan diskusi untuk dibahas. Sikap yang perlu dijaga dan diusahakan di dalam sharing adalah mendengarkan dengan tulus. Untuk mendengarkan, perhatian dipusatkan dengan sungguh-sungguh agar apa yang diceritakan itu dipahami, dihayati, dan ikut dirasakan. Dengan demikian, timbul belarasa, setia kawan atau solider dengan ‘dia’ yang mengalami peristiwa itu.

Syarat-syarat Sharing

Sharing di Pondok Labu 1996
a. Memilih tempat yang tenang, hindari keramaian dan orang lain.

b. Sharing dimulai dan diakhiri dengan doa; memohon penyertaan Tuhan selama sharing.

c. Peserta diberi kesempatan selama beberapa menit untuk mengingat suatu peristiwa berkesan untuk di-sharing-kan. Peristiwa berkesan adalah kejadian yang cukup berpengaruh bagi perubahan dan pandangan hidup, baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan. 

Belajar Piano secara Mandiri
d. Ketika seorang anggota sedang men-sharing-kan pengalamannya, siapa pun tidak dibenarkan untuk: menghentikan pembicaraannya, memberi nasihat, menanggapi, menertawakan, mengejek, dan mengeritik. Sikap yang benar adalah mendengarkan, memahami, dan merasakan. 

e. Segala sesuatu yang diungkapkan dalam sharing, entah bersifat pribadi atau umum menjadi rahasia kelompok sharing, artinya tidak boleh diceritakan atau dibicarakan di luar kelompok sharing.

 Pelaksanaan Sharing

a. Pembina menceritakan sebuah contoh sharing. Karena kadang-kadang ada peserta yang sulit menceritakan pengalamannya. Bila hal itu terjadi maka mereka perlu dibantu dengan media lain, misalnya gambar-gambar yang mengingatkan mereka akan peristiwa yang pernah dialami. Contoh peristiwa yang disharingkan oleh Pembina bukan untuk dicontoh, melainkan sebagai ‘pintu masuk’ bagi sharing-sharing yang lain. 

Contoh sharing: 
Saya dilahirkan dari keluarga besar, sembilan bersaudara. Tetapi ketika saya berusia enam tahun kakak saya yang ketiga meninggal dunia sehingga kami tinggal delapan bersaudara, empat putera dan empat puteri. Kematian kakak itu membuat kami semua sangat sedih karena kematiannya akibat jatuh dari pohon. Apalagi setiap kali kami membicarakannya aroma ketika mati selalu tercium, seakan dia mau terlibat di dalam pembicaraan. Sejak peristiwa kematian kakak itu timbul keyakinan dalam diri saya bahwa orang yang mati rohnya tetap hidup, dan saya percaya roh kakak saya tetap hidup dan kini tinggal di surga. Kepercayaan saya itu bukan diajarkan oleh para guru, tetapi karena saya mengalami sendiri kematian kakak.

 b. Peserta dibagi dalam kelompok (5-7 orang). Penentuan jumlah kelompok mempertimbangkan jumlah pendamping yang ada karena setiap kelompok harus didampingi. Jika peserta campuran, putra-putri, jumlah peserta ditentukan secara bijak agar seimbang. 

c. Setiap kelompok sharing didampingi oleh seorang pembina yang tugasnya: 
• bersama peserta mencari tempat yang tenang, jauh dari keramaian,
• membuka sharing dengan doa, 
• mengarahkan jalannya sharing agar tidak berubah menjadi ajang diskusi,
• mengajak peserta mendoakan anggota kelompok yang mempunyai pengalaman menyedihkan,
• mendampingi peserta yang larut dalam kesedihan,
• mengingatkan peserta untuk menjaga rahasia sharing, 
• menutup sharing dengan doa. 
***